Dinamika 2023, Katanya Dinamika Awal dari Segalanya



Entah karma apa yang melekat di diri gw sampe akhirnya bisa ikut dinamika di stan untuk yang kedua kalinya. Jelas, dari dulu belum pernah terbersit niat untuk jadi mahasiswa di kampus ini. Sebagai anak laki-laki yang suka menghayal, profesi sebagai ASN sama sekali gak ada di dalam pikiran, jadi arsitek, dokter, pengusaha, programmer, jauh lebih sering terbayang sebagai gambaran masa depan. Nyatanya, di bulan september 2023 ini, gw lagi-lagi ikut kegiatan pengenalan kampus yang biasa disebut dinamika untuk yang kedua kalinya. Takdir dunia memang gak bisa ditebak, mungkin berbeda dari yang kita harapkan, tapi gw percaya ini jalan terbaik yang memang sudah dituliskan. Semoga ya.

Jarak dari pengumuman seleksi sampai ke pelaksanaan dinamika sangatlah dekat. Sama sekali gak masuk akal, tapi mau tidak mau ya harus dikerjakan. Sat-set-sat-set tiba-tiba sudah masuk waktunya dinamika. Wajah teman-teman lain sangat terlihat antusias, excited, berbahagia karena bisa ikut dinamika untuk yang kedua kalinya. Tapi jujur, di diri ini rasa ketika bisa ikut serta di dinamika 2023 masih sama seperti di dinamika tahun 2017 lalu, hampa. Bukan kurang bersyukur atau tidak menghargai, tapi masih sama, muncul banyak pertanyaan di kepala. Meski begitu, kewajiban sebagai maba untuk mengikuti dinamika tetap gw laksanakan sebagaimana mestinya.



Dinamika bukanlah segalanya, tapi dinamika awal dari segalanya.

 Kalimat di atas pasti dibuat oleh sesepuh-sesepuh mahasiswa di kampus ini. Mereka yang menyusun kalimat itu pasti tahu betul apa itu dinamika dan apa konsekuensi atas semuanya. Dinamika memang cuma serangkaian acara pengenalan kampus, mulai dari jajaran senat, direktur, kaprodi, dll. Perkenalan layanan akademis dan non akademis, talkshow inspirasional, dan games-games bonding. Lebih dari itu, ketika mahasiswa baru berhasil menjadi salah satu peserta dinamika, artinya ia siap menerima semua konsekuensi di masa depan. Mulai dari tekanan perkuliahan, ancaman do, hingga momok penempatan di masa depan.

Sebagai mahasiswa tua yang sudah pernah merasakan manis-pahitnya dunia kerja, gw sedikit-banyak juga cukup memahami esensi kalimat tadi. Segalanya, yang dimaksud segalanya dalam kalimat tersebut memang literally segalanya yang kita miliki sebagai manusia. Kebebasan berpendapat sudah tentu dibatasi, kebebasan berekspresi di publik apalagi, bahkan ranah private pun sekarang ikut diatur-atur, seakan pegawai adalah hak milik negara yang tidak memiliki hak-hak dasar manusia. Setelah ikut dinamika, kamu akan kehilangan segalanya. Segala yang kamu impikan di masa depan, segala kebebasan yang pernah kamu rasakan, segala yang melekat di pikiran.

Tapi, gw menolak. Sebagai manusia, gw berhak mendapatkan dan memperjuangkan kehidupan pribadi gw. Persetan dengan aturan-aturan dan larangan-larang gak masuk akal pemberantas kebebasan. Ini hidup gw, ini jalan gw, gw mau hidup sesuai dengan apa yang gw impikan. Untuk sekarang dan beberapa tahun kedepan, gw pasti akan fair untuk mengikuti aturan yang ada karena memang sudah menjadi kewajiban gw untuk menjalani semuanya. Tapi setelah datang masanya, gw pasti bakal ambil jalan terbaik untuk bisa terbebas dari ini semua.

Disini, gw bakal memaksimalkan semuanya, ilmu, rekan, jaringan, kesempatan, untuk bisa merajut impian-impian gw yang tertunda di masa depan. Gw pengen bisa lancar bahasa inggris dengan target dapet skor toefl dan ielts maksimal. Gw akan berusaha untuk ningkatin kemampuan public speaking dengan join komunitas dan belajar orasi/presentasi di depan banyak orang. Gw bakal memperluas jaringan pertemanan dengan lebih banyak orang. Gw juga mau belajar bikin usaha dan bisnis sebagai bekal gw nanti. Gw percaya pasti bisa untuk mengejar mimpi-mimpi itu.

0 komentar:

Posting Komentar